![]() |
Dewasa ini,
perkembangan teknologi begitu cepat. Dengan berbagai macam inovasi teknologi
terutama teknologi informasi menjadikan pergerakan arus informasi menjadi
sangat cepat terutama di media internet. Arus informasi yang sangat cepat ini
menjadikan pemburu informasi sangat mudah menemukan informasi, bahkan dalam sekali
‘klik’ ia akan menemukan sangat banyak informasi yang ia cari. Namun ada
kalanya banyaknya informasi yang tersedia justru akan membuat bingung pencari
informasi, karena bisa jadi informasi yang tersedia banyak yang saling
bertentangan, selain itu isi dari kebanyakan situs di internet adalah hasil
‘copas’ dari situs lainnya sehingga isinya sama dan entah mana sumber sebenarnya
sehingga tidak layak untuk dijadikan sebagai bahan referensi.
Bicara soal
informasi tentu kita sepakat bahwa perpustakaan merupakan salah satu lembaga
penyedia informasi. Menurut UU No. 43 tahun 2007, Perpustakaan adalah institusi
pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/ atau karya rekam secara
profesional guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian,
informasi, dan rekreasi para pemustaka. Dari pengertian tersebut sangat jelas
bahwa perpustakaan salah satu fungsinya adalah sebagai lembaga informasi.
Adapun jenis informasinya berupa koleksi karya tulis, karya cetak, dan/ atau
karya rekam.
Perpustakaan
sebagai lembaga penyedia informasi tentunya tidak akan lepas dari yang namanya layanan,
layanan dalam hal ini adalah layanan kepada pemustaka. Macam-macam layanan pemustaka
menurut Abdul Rahman Saleh dan Rita Komalasari (2010: 4.3) antara lain sebagai
berikut:
1.
Layanan sirkulasi;
2.
Layanan referensi;
3.
Layanan pendidikan pemakai;
4.
Layanan penelusuran informasi;
5.
Layanan penyebarluasan informasi
terbaru;
6.
Layanan penyebaran informasi
terseleksi;
7.
Layanan penerjemahan;
8.
Layanan fotokopi (jasa reproduksi);
9.
Layanan anak;
10.
Layanan remaja;
11.
Layanan kelompok pembaca khusus;
12.
Layanan perpustakaan keliling;
Semua itu dilakukan
oleh perpustakaan tujuannya adalah agar pemustaka memperoleh kepuasan dari
layanan tersebut. Selain itu, untuk mencapai tujuan layanan tersebut maka
diperlukan pelayanan yang optimal. Pelayanan menurut Ivancevich, Lorenzi,
Skinner dan Crosby (1997: 448): “Pelayanan adalah produk-produk yang tidak
kasat mata (tidak dapat di raba) yang melibatkan usaha-usaha manusia dan
menggunakan peralatan”. Jika pengertian tersebut di masukkan ke dalam
perpustakaan, maka peralatan di sini dapat diartikan sebagai perangkat atau
perabot yang ada di dalam perpustakaan yang digunakan untuk layanan pemustaka.
Pelayanan
perpustakaan adalah kegiatan tiada akhir yang dilakukan oleh pustakawan (kecuali
pelayanan perpustakaan sedang tutup), dimana pustakawan melakukan rutinitasnya,
yaitu melayani pemustaka dengan peralatan yang bisa dibilang alat yang sama
yang digunakan secara terus-menerus setiap harinya. Dengan pekerjaan yang
sangat bergantung dengan peralatan, tentunya jika peralatan yang digunakan
tidak sesuai dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi si pemakai dalam hal ini
pustakawan itu sendiri. Fakta dari European Agency for Safety and Health at
Work (2007) menyebutkan banyak pekerja yang mengeluh nyeri, ketidaknyamanan dan
gangguan fungsi dari tulang belakang, leher dan kaki. Pada 27 negara di Uni
Eropa didapatkan sekitar 25% dari pekerjanya mengeluh sakit punggung, 23%
dilaporkan adanya nyeri otot. Keluhan-keluhan tersebut muncul karena terlalu
seringnya pekerja melakukan pekerjaannya dengan menggunakan peralatan yang
kurang sesuai dengan kemampuan tubuhnya. Bagaimana jika hal ini terjadi pada
pustakawan? Tentunya ini akan sangat mengurangi produktivitas kerja pustakawan
dalam melakukan pelayanan sehingga pelayanan yang optimal hanyalah angan
belaka.
Untuk
mengatasi masalah ini, diperlukan ilmu khusus, yaitu Ergonomi. Menurut Febri
Endra Budi Setyawan (2011): “Ergonomi adalah ilmu terapan yang menjelaskan
interaksi antara manusia dengan lingkungan kerjanya. Tujuan penerapan ergonomi
adalah (a) meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental; (b) meningkatkan
kesejahteraan sosial; (c) keseimbangan rasional antara sistem-manusia atau
mesin-manusia dengan aspek teknis, ekonomi, antropologi, budaya. Manfaat
penerapan Ergonomi antara lain pekerjaan lebih cepat selesai, risiko penyakit
akibat kerja menjadi kecil, kelelahan berkurang, rasa sakit berkurang atau
tidak ada”.
Dalam
penerapannya, ergonomi membahas tentang bagaimana kemampuan seseorang dalam
melakukan pekerjaannya. Seberapa lama seseorang dapat melakukan pekerjaannya
dengan optimal karena kemampuan dan energi manusia memang terbatas. Jadi sangat
riskan jika seseorang bekerja melebihi kemampuannya, apalagi dilakukan secara
terus menerus pasti akan terjadi gangguan di kemudian hari. Maka alangkah lebih
baiknya jika manusia bekerja memang harus sesuai kemampuan optimalnya, sehingga
ia dapat bekerja lebih efektif.
Selanjutnya
adalah jangkauan fisik manusia, dimana manusia memiliki keterbatasan fisik,
salah satunya adalah postur tubuh. Postur tubuh antara orang-orang Indonesia
dengan orang-orang barat sangatlah berbeda, tentunya perlakuannya juga harus
berbeda. Misalkan seorang pustakawan dengan tinggi rata-rata orang Indonesia
bekerja pada perpustakaan yang tinggi raknya mengikuti tinggi rata-rata orang
barat, dan jika ini terjadi dalam waktu yang lama pasti tidaklah baik, seperti
yang diungkapkan oleh Liliana (2007) bahwa akumulasi ketidaknyamanan penggunaan
alat pada jangka waktu tertentu akan berdampak tidak baik bagi kesehatan penggunanya
dan keselamatan. Jadi, jika perpustakaan itu berada di Indonesia, maka
peralatan dalam perpustakaannya juga harus mengikuti postur rata-rata orang
Indonesia, sehingga baik pustakawan maupun pemustaka dapat melakukan
aktivitasnya dengan lebih efisien.
Dengan
diterapkannya unsur-unsur ergonomi di dalam perpustakaan, diharapkan pelayanan
di dalam perpustakaan dapat berjalan dengan optimal, sehingga layanan-layanan
informasi yang ada di perpustakaan bisa lebih efisien dan efektif.
Referensi:
Ratminto, Atik
Septi Winarsih. 2014. Manajemen Pelayanan: Pengembangan Model Konseptual,
Penerapan Citizen’s Charter dan Standar Pelayanan Minimal. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Saleh, Abdul Rahman, Rita
Komalasari. 2010. Manajemen Perpustakaan. Jakarta: Universitas Terbuka.
Setyawan, Febri Endra Budi. 2011. “Penerapan
Ergonomi Dalam Konsep Kesehatan”. Jurnal Saintika Medika, Vol. 7, No.
14, Januari 2011.

0 komentar :
Posting Komentar