Melangkah Untuk Terus Maju

Senin, 15 Juni 2015

Optimalisasi Pelayanan Perpustakaan Melalui Penerapan Ergonomi

foto diambil dari donyprisma.wordpress.com
Dewasa ini, perkembangan teknologi begitu cepat. Dengan berbagai macam inovasi teknologi terutama teknologi informasi menjadikan pergerakan arus informasi menjadi sangat cepat terutama di media internet. Arus informasi yang sangat cepat ini menjadikan pemburu informasi sangat mudah menemukan informasi, bahkan dalam sekali ‘klik’ ia akan menemukan sangat banyak informasi yang ia cari. Namun ada kalanya banyaknya informasi yang tersedia justru akan membuat bingung pencari informasi, karena bisa jadi informasi yang tersedia banyak yang saling bertentangan, selain itu isi dari kebanyakan situs di internet adalah hasil ‘copas’ dari situs lainnya sehingga isinya sama dan entah mana sumber sebenarnya sehingga tidak layak untuk dijadikan sebagai bahan referensi.
Bicara soal informasi tentu kita sepakat bahwa perpustakaan merupakan salah satu lembaga penyedia informasi. Menurut UU No. 43 tahun 2007, Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/ atau karya rekam secara profesional guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Dari pengertian tersebut sangat jelas bahwa perpustakaan salah satu fungsinya adalah sebagai lembaga informasi. Adapun jenis informasinya berupa koleksi karya tulis, karya cetak, dan/ atau karya rekam.
Perpustakaan sebagai lembaga penyedia informasi tentunya tidak akan lepas dari yang namanya layanan, layanan dalam hal ini adalah layanan kepada pemustaka. Macam-macam layanan pemustaka menurut Abdul Rahman Saleh dan Rita Komalasari (2010: 4.3) antara lain sebagai berikut:
1.      Layanan sirkulasi;
2.      Layanan referensi;
3.      Layanan pendidikan pemakai;
4.      Layanan penelusuran informasi;
5.      Layanan penyebarluasan informasi terbaru;
6.      Layanan penyebaran informasi terseleksi;
7.      Layanan penerjemahan;
8.      Layanan fotokopi (jasa reproduksi);
9.      Layanan anak;
10.  Layanan remaja;
11.  Layanan kelompok pembaca khusus;
12.  Layanan perpustakaan keliling;
Semua itu dilakukan oleh perpustakaan tujuannya adalah agar pemustaka memperoleh kepuasan dari layanan tersebut. Selain itu, untuk mencapai tujuan layanan tersebut maka diperlukan pelayanan yang optimal. Pelayanan menurut Ivancevich, Lorenzi, Skinner dan Crosby (1997: 448): “Pelayanan adalah produk-produk yang tidak kasat mata (tidak dapat di raba) yang melibatkan usaha-usaha manusia dan menggunakan peralatan”. Jika pengertian tersebut di masukkan ke dalam perpustakaan, maka peralatan di sini dapat diartikan sebagai perangkat atau perabot yang ada di dalam perpustakaan yang digunakan untuk layanan pemustaka.
Pelayanan perpustakaan adalah kegiatan tiada akhir yang dilakukan oleh pustakawan (kecuali pelayanan perpustakaan sedang tutup), dimana pustakawan melakukan rutinitasnya, yaitu melayani pemustaka dengan peralatan yang bisa dibilang alat yang sama yang digunakan secara terus-menerus setiap harinya. Dengan pekerjaan yang sangat bergantung dengan peralatan, tentunya jika peralatan yang digunakan tidak sesuai dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi si pemakai dalam hal ini pustakawan itu sendiri. Fakta dari European Agency for Safety and Health at Work (2007) menyebutkan banyak pekerja yang mengeluh nyeri, ketidaknyamanan dan gangguan fungsi dari tulang belakang, leher dan kaki. Pada 27 negara di Uni Eropa didapatkan sekitar 25% dari pekerjanya mengeluh sakit punggung, 23% dilaporkan adanya nyeri otot. Keluhan-keluhan tersebut muncul karena terlalu seringnya pekerja melakukan pekerjaannya dengan menggunakan peralatan yang kurang sesuai dengan kemampuan tubuhnya. Bagaimana jika hal ini terjadi pada pustakawan? Tentunya ini akan sangat mengurangi produktivitas kerja pustakawan dalam melakukan pelayanan sehingga pelayanan yang optimal hanyalah angan belaka.
Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan ilmu khusus, yaitu Ergonomi. Menurut Febri Endra Budi Setyawan (2011): “Ergonomi adalah ilmu terapan yang menjelaskan interaksi antara manusia dengan lingkungan kerjanya. Tujuan penerapan ergonomi adalah (a) meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental; (b) meningkatkan kesejahteraan sosial; (c) keseimbangan rasional antara sistem-manusia atau mesin-manusia dengan aspek teknis, ekonomi, antropologi, budaya. Manfaat penerapan Ergonomi antara lain pekerjaan lebih cepat selesai, risiko penyakit akibat kerja menjadi kecil, kelelahan berkurang, rasa sakit berkurang atau tidak ada”.
Dalam penerapannya, ergonomi membahas tentang bagaimana kemampuan seseorang dalam melakukan pekerjaannya. Seberapa lama seseorang dapat melakukan pekerjaannya dengan optimal karena kemampuan dan energi manusia memang terbatas. Jadi sangat riskan jika seseorang bekerja melebihi kemampuannya, apalagi dilakukan secara terus menerus pasti akan terjadi gangguan di kemudian hari. Maka alangkah lebih baiknya jika manusia bekerja memang harus sesuai kemampuan optimalnya, sehingga ia dapat bekerja lebih efektif.
Selanjutnya adalah jangkauan fisik manusia, dimana manusia memiliki keterbatasan fisik, salah satunya adalah postur tubuh. Postur tubuh antara orang-orang Indonesia dengan orang-orang barat sangatlah berbeda, tentunya perlakuannya juga harus berbeda. Misalkan seorang pustakawan dengan tinggi rata-rata orang Indonesia bekerja pada perpustakaan yang tinggi raknya mengikuti tinggi rata-rata orang barat, dan jika ini terjadi dalam waktu yang lama pasti tidaklah baik, seperti yang diungkapkan oleh Liliana (2007) bahwa akumulasi ketidaknyamanan penggunaan alat pada jangka waktu tertentu akan berdampak tidak baik bagi kesehatan penggunanya dan keselamatan. Jadi, jika perpustakaan itu berada di Indonesia, maka peralatan dalam perpustakaannya juga harus mengikuti postur rata-rata orang Indonesia, sehingga baik pustakawan maupun pemustaka dapat melakukan aktivitasnya dengan lebih efisien.

Dengan diterapkannya unsur-unsur ergonomi di dalam perpustakaan, diharapkan pelayanan di dalam perpustakaan dapat berjalan dengan optimal, sehingga layanan-layanan informasi yang ada di perpustakaan bisa lebih efisien dan efektif.

Referensi:
            Ratminto, Atik Septi Winarsih. 2014. Manajemen Pelayanan: Pengembangan Model Konseptual, Penerapan Citizen’s Charter dan Standar Pelayanan Minimal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
            Saleh, Abdul Rahman, Rita Komalasari. 2010. Manajemen Perpustakaan. Jakarta: Universitas Terbuka.
            Setyawan, Febri Endra Budi. 2011. “Penerapan Ergonomi Dalam Konsep Kesehatan”. Jurnal Saintika Medika, Vol. 7, No. 14, Januari 2011.
0

0 komentar :

Posting Komentar